Selasa, 22 Juni 2010

WORLD CUP 2010 SOUTH AFRICA




liverpool football Gif Pictures, Images and Photos

Demam Piala dunia 2010 Jangan Pula Membuat Kita Demam

Sungguh fantastis, itulah kata yang dapat saya ungkapkan. Sebuah kemeriahan dalam event 4 tahunan ini mengaggungkan si kulit bundar. Sulit menghitung manusia tumpah ruah di tanah kelam Afrika. Negaranya Om Nelson Mandela. Itulah Piala Dunia 2010.

Demam Piala Dunia 2010 menggema ke seluruh penjuru dunia. Tidak terkecuali di Negara tercinta Indonesia ini. Indonesia merupakan salah satu Negara penggila sepak bola. Maniak sepak bola. Dari mulai yang kecil sampai yang besar, dari mulai yang sibuk sampai yang nganggur. Seperti di tempat saya bekerja, untuk memeriahkan event ini ada pula acara tahuran mie instan ala anak kost.

Memang sungguh fantastis. Tetapi sayangnya schedule pertandingannya tidak sewaktu dengan waktu di Indonesia. Ada perbedaan waktu dengan kita. Yang jelas lebih banyak pada waktu malam hari pertandingannya bahkan dini hari ( yang saya liat ada 3 waktu yaitu pukul 18.30, 21.00 dan 01.30 )

Melihat dari event perhelatan kelas dunia ini banyak dari penggila bola yang terfokus pada acara pertandingan ini. Ada yang lupa waktu, lupa waktu makan, istirahat, tidur dan olahraga juga. Ini merupakan kebiasaan termasuk saya sendiri. Faktor lupa atau disengaja pada hal-hal yang saya sebutkan tadi wajib kita hindari. Walaupun kita penggila bola setidaknya tidak melupakan faktor kesehatan kita sendiri.

Tetap makan tepat waktu, atur waktu istirahat dan tetap berolah raga. Tetap semangat.

Jumat, 18 Juni 2010


Lima Kebanggan Anak Melayu Riau

Kebanggaan pertama di bidang Agama
Kebanggaan kedua di bidang Bahasa
Kebanggaan ketiga di bidang Adat Istiadat dan Budaya
Kebanggaan keempat di bidang Sumber Daya Alam
Kebanggaan kelima di bidang Toleransi


Kosa Kata Dalam Bahasa Melayu

Kosa Kata Dalam Bahasa Melayu
yang banyak digunakan oleh orang Melayu Kepulauan Riau

Arkib = arsip
Angit = bau hangus

Bedegap = kuat
Begajul = Bandel
Belacan = terasi
Bengal = keras kepala
Betik = pepaya
Bilis = teri
Bomo = dukun, tabib, pawang
Buluh = bambu
Butang = kancing

Calar = barut/parut, baret, goresan luka
Cekau = kelahi
Cencalok = acar yang terbuat dari teri halus, bawang, cabe
Cindai = selendang
Comel = cantik

Dedah = buka, terbuka, membuka
Degil = nakal, bandel

Gasal = ganjil
Gerubuk = lemari makan di dapur
Gubal Sagu = makanan dari sagu yang digumpalkan
Guli = kelereng

Habuk = debu (bukan abu arang hasil pembakaran)

Jolok = mengambil sesuatu dengan tongkat panjang/galah

Kanun = meriam kecil, gerombolan/pasukan angkatan laut
Kasut = terompah/sendal
Kedekut = kikir, sangat pelit
Kemaruk = rakus
Koret = sisa
Koret-koret = sisa/mengorek
Kude-kude = tempat duduk rendah

Lanun = Perampok di laut, bajak laut
Lapik = alas tikar
Lasak = tak diam
Lawa = cantik/ganteng
Lempeng sagu = sejenis makanan dari sagu yang dibuat pipih/dadar
Lokek = pelit (belum mencapai tahap kedekut)
Longkang = parit/got/comberan
Lori = truk
Lucah = keji/kejam, kotor, tidak senonoh

Marwah = harga diri
Menyanyah = mengada-ada, berbicara tidak menentu
Montel = gemuk
Mustahak = penting, perlu, wajib, harus

Nyanyok = agak lupa
Nyiur = kelapa

Pelasah = hajar
Pelik = susah, rumit, sulit
Penyamun = Perampok di darat dan di laut
Perigi = sumur
Pinggan = piring
Pondok-pondok (bukan "pondok" dalam satu kata saja) = rumah-rumahan tanpa dinding
Puan = perempuan

Rasuah = sogokan
Rengut = cemberut
Resam = adat istiadat

Selap/Nyelap = berlebihan
Selipar = sendal
Seluar = celana
Sementung = cemberut
Sempak = celana dalam
Senarai = daftar, catatan
Sengak = sombong/angkuh
Seronok = senang, gembira
Sotong = cumi-cumi
Sudu = sendok
Suluh = lampu

Tamadun = budaya
Tambul = makanan ringan
Tayang = tampar pelan
Telajak = terlewat
Tembilang/Sembilang/Taji/Baji = alat untuk melobang tanah
Tempias = percikan air
Tempoyak = makanan dari durian yang diasamkan
Teruk = parah, susah, sulit
Tesasol = tersalah cakap/bicara
Tingkap = jendela
Tuah = untung, berkah
Tungkus lumus = kerja keras

Zuriat = anak cucu keturunan
Gurindam 12 - Fasal 1

barang siapa tiada memegang agama
sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama

barang siapa mengenal yang empat maka yaitulah orang yang makrifat

barang siapa mengenal Allah
suruh dan tegahnya tiada ia menyalah

barang siapa mengenal diri
maka telah mengenal akan tuhan yang bahri

barang siapa mengenal dunia
tahulah ia barang yang terperdaya

barang siapa mengenal akhirat
tahulah ia dunia mudharat

Gurindam 12 - Fasal 2

barang siapa mengenal yang tersebut
tahulah ia makna takut

barang siapa meninggalkan sembahyang
seperti rumah tiada bertiang

barang siapa meninggalkan puasa
tidaklah mendapat dua termasa

barang siapa meninggalkan zakat
tiada hartanya beroleh berkat

barang siapa meninggalkan haji
tiadalah ia menyempurnakan janji

Gurindam 12 - Fasal 3

apabila terpelihara mata
sedikitlah cita-cita

apabila terpelihara kuping
khabar yang jahat tiadalah damping

apabila terpelihara lidah
niscaya dapat daripadanya faedah

bersungguh-sungguh engkau memeliharakan tangan
daripada segala berat dan ringan

apabila perut terlalu penuh
keluarlah fi‘il yang tiada senonoh

anggota tengah hendaklah ingat
di situlah banyak orang yang hilang semangat

hendaklah peliharakan kaki
daripada berjalan yang membawa rugi

Gurindam 12 - Fasal 4

hati itu kerajaan di dalam tubuh
jikalau zalim segala anggota pun rubuh

apabila dengki sudah bertanah
datang daripadanya beberapa anak panah

mengumpat dan memuji hendaklah pikir
di situlah banyak orang yang tergelincir

pekerjaan marah jangan dibela
nanti hilang akal di kepala

jika sedikit pun berbuat bohong
boleh diumpamakan mulutnya itu pekung

tanda orang yang amat celaka
aib dirinya tiada ia sangka

bakhil jangan diberi singgah
itulah perompak yang amat gagah

barang siapa yang sudah besar
janganlah kelakuannya membuat kasar

barang siapa perkataan kotor
mulutnya itu umpama ketor

di manatah tahu salah diri
jika tiada orang lain yang berperi

pekerjaan takbur jangan direpih
sebelum mati didapat juga sepih

Gurindam 12 - Fasal 5

jika hendak mengenal orang berbangsa
lihat kepada budi dan bahasa

jika hendak mengenal orang yang berbahagia
sangat memeliharakan yang sia-sia

jika hendak mengenal orang mulia
lihatlah kepada kelakuan dia

jika hendak mengenal orang yang berilmu
bertanya dan belajar tiadalah jemu

jika hendak mengenal orang yang berakal
di dalam dunia mengambil bekal

jika hendak mengenal orang yang baik perangai
lihat pada ketika bercampur dengan orang ramai

Gurindam 12 - Fasal 6
Gurindam 12 - Fasal 7

apabila banyak berkata-kata
di situlah jalan masuk dusta

apabila banyak berlebih-lebihan suka
itulah tanda hampirkan duka

apabila kita kurang siasat
itulah tanda pekerjaan hendak sesat

apabila anak tidak dilatih
jika besar bapanya letih

apabila banyak mencacat orang
itulah tanda dirinya kurang

apabila orang yang banyak tidur
sia-sia sahajalah umur

apabila mendengar akan khabar
menerimanya itu hendaklah sabar

apabila mendengar akan aduan
membicarakannya itu hendaklah cemburuan

apabila perkataan yang lemah lembut
lekaslah segala orang mengikut

apabila perkataan yang amat kasar
lekaslah orang sekalian gusar

apabila pekerjaan yang amat benar
tiada boleh orang berbuat honar

Gurindam 12 - Fasal 8

barang siapa khianat akan dirinya
apalagi kepada lainnya

kepada dirinya ia aniaya
orang itu jangan engkau percaya

lidah suka membenarkan dirinya
daripada yang lain dapat kesalahannya

daripada memuji diri hendaklah sabar
biar daripada orang datangnya khabar

orang yang suka menampakkan jasa
setengah daripada syirik mengaku kuasa

kejahatan diri sembunyikan
kebajikan diri diamkan

keaiban orang jangan dibuka
keaiban diri hendaklah sangka

Gurindam 12 - Fasal 9

tahu pekerjaan tak baik tapi dikerjakan
bukannya manusia ia itulah syaitan

kejahatan seorang perempuan tua
itulah iblis punya penggawa

kepada segala hamba-hamba raja
di situlah syaitan tempatnya manja

kebanyakan orang yang muda-muda
di situlah syaitan tempat bergoda

perkumpulan laki-laki dengan perempuan
di situlah syaitan punya jamuan

adapun orang tua yang hemat
syaitan tak suka membuat sahabat

jika orang muda kuat berguru
dengan syaitan jadi berseteru

Gurindam 12 - Fasal 10

dengan bapa jangan durhaka
supaya Allah tidak murka

dengan ibu hendaklah hormat
supaya badan dapat selamat

dengan anak janganlah lalai
supaya boleh naik ke tengah balai

dengan isteri dan gundik janganlah alpa
supaya kemaluan jangan menerpa

dengan kawan hendaklah adil
supaya tangannya jadi kapil

Gurindam 12 - Fasal 11

hendaklah berjasa
kepada yang sebangsa

hendaklah jadi kepala
buang perangai yang cela

hendak memegang amanat
buanglah khianat

hendak marah
dahulukan hujjah

hendak dimalui
jangan memalui

hendak ramai
murahkan perangai

Gurindam 12 - Fasal 12

raja mufakat dengan menteri
seperti kebun berpagar duri

betul hati kepada raja
tanda jadi sebarang kerja

hukum adil atas rakyat
tanda raja beroleh inayat

kasihkan orang yang berilmu
tanda rahmat atas dirimu

hormat akan orang yang pandai
tanda mengenal kasa dan cindai

ingatkan dirinya mati
itulah asal berbuat bakti

akhirat itu terlalu nyata
kepada hati yang tidak buta

Kamis, 17 Juni 2010

Pendekatan Sosial dalam Kegiatan KKN

Kuliah Kerja Nyata (KKN) merupakan salah satu bentuk pengamalan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Secara ideal, penyelenggaraan KKN seyogyanya dapat menjangkau tiga sasaran utama. Pertama, sebagai wahana pembelajaran bagi para mahasiswa (peserta KKN) untuk mengaplikasikan berbagai teori yang diperolehnya selama dalam perkuliahan, sesuai dengan disiplin ilmunya masing-masing. Kedua, KKN dapat memberikan nilai tambah dalam rangka meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat. Ketiga, KKN merupakan media untuk membangun kemitraan antara lembaga perguruan tinggi yang bersangkutan dengan masyarakat, termasuk di dalamnya sebagai upaya untuk membangun citra sekaligus dapat dijadikan sebagai ajang promosi perguruan tinggi yang bersangkutan.

Namun dalam prakteknya, tidak mustahil ketiga sasaran KKN tersebut di atas dapat melenceng dari harapan semula, sehingga setelah KKN berakhir, justru para mahasiswa (peserta KKN) tetap saja tidak memperoleh pembelajaran diri yang berarti. Begitu pula, kualitas kehidupan masyarakat di lokasi KKN tidak menunjukkan perubahan yang signifikan. Bahkan, di mata masyarakat bisa saja citra perguruan tinggi malah semakin merosot Dengan demikian, penyelenggaraan KKN boleh dikatakan mengalami kegagalan atau tidak efektif.

Tentu saja, kiranya banyak faktor yang menyebabkan penyelenggaraan KKN menjadi tidak efektif. Di antara sejumlah faktor penyebab kegagalan penyelenggaraan KKN, salah satunya adalah berkenaan dengan kemampuan para mahasiswa (peserta KKN) dalam melakukan pendekatan sosial dengan masyarakat setempat. Oleh karena itu, dalam tulisan ini penulis akan berupaya memaparkan tentang : apa itu pendekatan sosial ? bagaimana tahapan-tahapan yang harus dilalui dalam pendekatan sosial ? dan bagaimana pula proses interaksi sosial yang terjadi dalam KKN ? Dengan harapan kiranya dapat dijadikan sebagai bahan masukan dan pertimbangan,bagi para mahasiswa yang hendak mengikuti program KKN.

A. Pendekatan Sosial

Yang dimaksud dengan pendekatan sosial di sini adalah upaya dari Perguruan Tinggi, khususnya para mahasiswa peserta KKN selaku pelaksana utama dalam KKN untuk dapat mengintegrasikan diri (meleburkan diri) ke dalam berbagai kegiatan masyarakat agar dapat diterima dan berperan-serta dalam berbagai kegiatan masyarakat di tempat KKN.

Pendekatan sosial dilakukan dalam seluruh rangkaian pengelolan kegiatan KKN, baik pada tahap perencanaan, pelaksanaan, maupun pada tahap evaluasi. Dalam tahap perencanaan, pendekatan sosial dilakukan dengan berusaha melibatkan masyarakat, baik secara langsung maupun tidak langsung, dalam penyusunan rencana atau program kegiatan KKN. Dengan pelibatan (partisipasi) masyarakat dalam perencanaan, kita dapat mengidentifikasi berbagai ekspektasi, kebutuhan dan permasalahan nyata yang dihadapi masyarakat, sehingga kita dapat menyusun action plan yang lebih tepat dan realistis. Semakin banyak masyarakat yang dilibatkan tentunya akan semakin baik. Di samping itu, keterlibatan masyarakat dalam perencanaan dapat membawa efek psikologis kepada mereka untuk sama-sama memikul tanggung jawab dalam mengimplementasikan rencana-rencana yang telah dibuat.

Pendekatan sosial dalam tahap pelaksanaan, terutama dilakukan oleh peserta KKN dengan cara membangun komunikasi dan hubungan sosial yang harmonis untuk secara – secara bersama mengimplementasikan setiap rencana yang telah disusun. Dibandingkan dengan tahapan KKN yang lainnya, justru pada tahap pelaksanaan inilah pendekatan sosial memegang peranan penting dan harus banyak dilakukan oleh para peserta KKN.
Sedangkan pendekatan sosial dalam tahap evaluasi berkaitan erat dengan partisipasi masyarakat untuk memberikan data yang obyektif atas kegagalan dan keberhasilan kegiatan KKN.

Kegagalan dalam melakukan pendekatan sosial dapat berdampak terhadap kegagalan penyelenggaraan KKN itu sendiri. Sebagus apapun program yang dirancang, jika tanpa didukung pendekatan sosial yang memadai tampaknya hanya akan menghasilkan kesia-sian saja. Oleh karena itu, betapa pentingnya penguasaan tentang pendekatan sosial dari setiap mahasiswa (peserta KKN).

B. Tahapan Pendekatan Sosial

Untuk tercapainya pendekatan sosial yang baik, perlu dilakukan tahapan-tahapan pendekatan sosial, sebagai berikut :

1. Pembukaan Hubungan

Agar pelaksanaan KKN berjalan efektif dan efisien perlu dukungan dan partisipasi masyarakat. Oleh karena itu, mahasiswa dan dosen pembimbing perlu membuka hubungan dengan masyarakat. Dalam tahapan ini mahasiswa beserta dosen pembimbing dapat mengadakan diskusi atau loka-karya dengan semua pihak strategis di masyarakat tentang rencana kerja.

Selain terjadi saling memperkenalkan diri, dari pihak peserta KKN perlu pula memperkenalkan tentang pengertian, maksud dan tujuan Kuliah Kerja Nyata kepada masyarakat, sehingga masyarakat memperoleh pemahaman yang tepat dan memiliki kepedulian terhadap kegiatan KKN. Pada tahap ini perlu dibicarakan pula hal-hal teknis yang berkaitan dengan pelaksanaan KKN.

Selesai tahap ini, rencana atau program yang telah disiapkan sebelumnya perlu segera disesuaikan dengan berbagai perkembangan yang terjadi, sekaligus ditata dan dijajaki kemungkinan-kemungkinan realisasinya.

2. Pemeliharaan Hubungan

Hubungan yang telah terjalin melalui tahapan sebelumnya, selanjutnya perlu dipelihara dan dijaga agar suasana KKN tetap berjalan kondusif. Kehangatan dan keakraban serta saling percaya dengan masyarakat terus dipelihara melalui kegiatan komunikasi secara formal maupun informal. Dalam pemeliharaan hubungan, komunikasi informal dapat memberikan hasil yang jauh lebih efektif. Oleh karena itu, peserta KKN, baik secara individual maupun kelompok seyogyanya dapat mengembangkan komunikasi informal dengan seluruh lapisan masyarakat, misalnya pada saat di warung, shalat berjamaah di masjid atau dalam bentuk-bentuk kegiatan informal lainnya.

3. Pembinaan Hubungan

Pembinaan hubungan terutama dilaksanakan oleh pengelola KKN (lembaga atau tim yang ditunjuk oleh perguruan tinggi yang bersangkutan) pada saat mengadakan pemantauan (monitoring) dan evaluasi terhadap rencana dan pelaksanaan kegiatan yang telah disetujui pihak-pihak strategis. Pada tahap ini dapat terjalin hubungan kerja sama antara Perguruan Tinggi dengan masyarakat yang tidak hanya sebatas pada masa KKN, akan tetapi sangat dimungkinkan pula untuk menjalin kerja sama lanjutan yang mutualisme, setelah masa KKN berakhir. Pembinaan hubungan ini dimaksudkan untuk semakin memperkokoh hubungan kerjasama yang telah terjalin.

4. Mengakhiri Hubungan

Sejalan dengan berakhirnya masa KKN, maka secara formal hubungan kerja sama antara peserta KKN dengan masyarakat pun berakhir. Kendati demikian, tidak menutup kemungkinan (bahkan sangat dianjurkan) untuk terjadinya hubungan lanjutan yang bersifat interpersonal dengan masyarakat setempat.

Pada tahap ini peserta KKN berpamitan dengan masyarakat, baik secara formal maupun personal. Secara formal biasanya dilakukan secara seremonial dalam bentuk acara khusus pelepasan peserta KKN oleh masyarakat setempat. Dalam hal ini, perwakilan dari lembaga Perguruan Tinggi diharapkan dapat hadir, sekurang-kurangnya dihadiri oleh Dosen Pembimbing. Sedangkan secara personal, pamitan dilakukan antar-individu (interpersonal) dalam suasana yang tidak formal. Jika tidak memungkinkan untuk pamitan dengan seluruh masyarakat, paling tidak peserta KKN berpamitan dengan tokoh-tokoh masyarakat dan orang-orang yang telah berjasa memberikan bantuan dan dukungannya selama kegiatan KKN berlangsung.

Pengakhiran hubungan yang baik ditandai oleh adanya kesan positif dari kedua belah pihak. Kesan akhir positif hanya akan diperoleh manakala tahapan – tahapan pendekatan sosial sebelumnya dapat dilalui dengan baik, yang disertai dengan karya-karya nyata yang dihasilkan selama kegiatan KKN berlangsung.

C. Proses Interaksi Sosial dalam KKN

Kegiatan KKN pada dasarnya merupakan kegiatan interaksi sosial yang melibatkan berbagai pihak. Dalam kegiatan KKN, kita akan menjumpai berbagai bentuk interaksi sosial, yang secara garis besarnya dapat diklasifikasikan ke dalam tiga pola atau bentuk interaksi sosial, yaitu : (1) interaksi individu dengan individu; (2) interaksi individu dengan kelompok; dan (3) interaksi kelompok dengan kelompok.

Interaksi individu dengan individu dapat terjadi antara peserta KKN dengan peserta KKN atau peserta KKN dengan anggota masyarakat. Sedangkan interaksi individu dengan kelompok dapat terjadi antara peserta KKN dengan kelompok KKN atau peserta KKN dengan kelompok masyarakat. Sementara interaksi kelompok dengan kelompok dapat terjadi antara kelompok KKN dengan kelompok masyarakat atau lembaga perguruan tinggi dengan kelompok masyarakat.
Berkenaan dengan interaksi sosial antara peserta KKN dengan masyarakat, baik secara individual maupun kelompok terdapat beberapa peran yang dijalankan oleh peserta KKN, diantaranya :

  1. komunikator; bertugas untuk mengkomunikasikan segenap program KKN yang akan dilaksanakan kepada masyarakat terkait, agar mereka yakin dan mau perpartisipasi aktif dalam seluruh rangkaian kegiatan KKN. Oleh karena itu, peserta KKN seyogyanya dapat menguasai berbagai teknik komunikasi dan mampu menerapkannya secara tepat dan bijak diantaranya : (a) teknik persuasif; yaitu teknik berkomunikasi untuk mempengaruhi orang lain dengan cara membujuk secara halus dan tidak menyinggung perasaan; (b) teknik informatif; yaitu teknik komunikasi dalam bentuk info khabar yang dapat mengurangi ketidakpastian atau suatu teknik komunikasi agar komunikan (pihak yang menerima informasi) dapat mengambil keputusan secara tepat; (c) teknik instruksi; yaitu teknik komunikasi yang cenderung bersifat perintah yang harus dilaksanakan dan jika tidak dilaksanakan akan terkena sanksi. Dalam berinteraksi dengan masyarakat, peserta KKN tentunya akan lebih tepat menggunakan teknik persuasif dan informatif, serta diusahakan sedapat mungkin untuk menghindari penggunaan teknik instruksi.
  2. fasilitator; bertugas membantu dan memberi kemudahan kepada masyarakat untuk dapat memberdayakan dan mengembangkan dirinya. Dalam menjalankan perannya sebagai fasilitator, pada dasarnya peserta KKN bertindak sebagai pendidik melalui pendekatan andragogi (pendidikan orang dewasa) dengan menekankan pada upaya-upaya pemecahan masalah yang dihadapi pada saat sekarang. Teknik – teknik pembelajaran yang dilakukan dapat berbentuk simulasi, game, diskusi, studi kasus dan teknik-teknik pembelajaran sejenisnya yang tidak bersifat “menggurui”. Dari peran fasilitator ini pula diharapkan dapat menghasilkan kader-kader pembangunan daerah, yang dibentuk melalui kegiatan pelatihan kader.
  3. motivator; bertugas memberikan dorongan kepada masyarakat agar dapat berpartisipasi aktif dalam proses pembangunan di daerahnya.
  4. inovator; bertugas mengembangkan berbagai pembaharuan untuk kepentingan kemajuan masyarakat. Dalam hal ini, peserta KKN bertindak sebagai agen perubahan (agent of change)
  5. mediator; bertugas untuk menjembatani kepentingan masyarakat dengan pihak ketiga. Dalam pelaksanaan KKN sangat mungkin ditemukan masalah-masalah atau kebutuhan-kebutuhan masyarakat yang karena alasan kewenangan dan kemampuan tidak mungkin dilakukan oleh para peserta KKN, maka dalam hal ini peserta KKN dapat menghadirkan pihak ketiga untuk diminta bantuannya. Misalkan, untuk masalah kesehatan dapat meminta bantuan dari Dinas Kesehatan, atau masalah pendidikan dari Dinas Pendidikan, dan sebagainya.

Peran-peran tersebut dapat dilakukan secara simultan, pada saat yang bersamaan mungkin bertindak sebagai fasilitator, sekaligus juga merangkap sebagai motivator, komunikator, atau peran-peran lainnya. Kesuksesan pendekatan sosial sangat ditentukan oleh sejauh mana para peserta KKN dapat mewujudkan peran-peran tersebut secara baik. Dengan menjalankan peran-peran tersebut, maka proses perubahan (pembangunan) yang terjadi di masyarakat melalui kegiatan KKN akan tampak lebih mengedepankan prinsip “dari masyarakat, oleh masyarakat dan untuk masyarakat”

Dalam berinteraksi dengan masyarakat, peserta KKN seyogyanya dapat membaca dan memahami sikap masyarakat terhadap kegiatan KKN. Di dalam masyarakat sangat mungkin ditemukan sikap terhadap kegiatan KKN yang beragam (termasuk sikap terhadap peserta KKN), ada yang cenderung positif, acuh tak acuh atau bahkan negatif.

Berhadapan dengan masyarakat yang memiliki sikap positif tentunya akan relatif lebih mudah untuk didekati dan diajak bekerja sama dalam mensukseskan berbagai program yang telah dicanangkan. Namun, sebaliknya berhadapan dengan masyarakat yang cenderung acuh tak acuh atau bahkan negatif diperlukan ekstra keras untuk mendekatinya. Untuk mendekati masyarakat yang acuh tak acuh atau negatif, diperlukan komunikasi yang lebih intensif dengan disertai kesabaran yang tinggi dengan tetap menunjukkan sikap empati dan simpati terhadap mereka. Dalam hal ini, tampaknya peserta KKN akan lebih banyak diuji tentang sejauhmana tingkat kecerdasan sosialnya.

Beberapa hal yang layak untuk diperhatikan oleh para peserta KKN dalam mengintegrasikan diri dengan masyarakat setempat, diantaranya adalah :

  1. Dekati semua tokoh masyarakat setempat yang memiliki pengaruh kuat di masyarakat, baik tokoh formal maupun non formal, untuk “meminjam” pengaruhnya guna kepentingan kesuksesan pelaksanaan KKN.
  2. Perlu disadari bahwa pendekatan sosial yang dilakukan bukan untuk kepentingan sesaat dan hanya untuk sementara waktu, yakni hanya pada waktu KKN berlangsung, tetapi diupayakan agar dapat memiliki kepentingan untuk waktu jangka panjang,
  3. Tanamkan keinginan untuk mengenal warga masyarakat lebih jauh dan berniat untuk menambah saudara, dengan siapa pun tanpa pandang bulu. Jangan mengambil tindakan alieanasi (pengasingan diri) yang bersifat eksklusif.
  4. Menghargai dan menghormarti sistem nilai yang berlaku di masyarakat setempat, meski mungkin nilai-nilai itu tidak selaras dengan nilai yang dianut oleh peserta KKN.
  5. Menjaga netralitas dalam konflik yang berkembang di masyarakat. Jika kebetulan ditempatkan di suatu lokasi KKN yang sedang berkembang konflik, tidak perlu menunjukkan keberpihakan kepada salah satu pihak, walau pun mungkin peserta KKN akan ditarik-tarik sedemikian rupa untuk berpihak. Peserta KKN tetap dalam posisi netral. Jika memungkinkan kembangkanlah hal-hal positif dari suasana konflik yang berkembang.
  6. Menjaga penampilan diri, sikap dan perilaku. Senantiasa berpakaian secara santun, hindarkan pembicaraan yang bersifat mengkritik dan dapat menyinggung perasaan masyarakat, terutama yang menyangkut keyakinan serta tata nilai masyarakat setempat.Bersikaplah rendah hati ramah, dan empati terhadap siapapun, dimana pun dan pada saat kapan pun.
  7. Di samping berupaya meleburkan diri dengan masyarakat setempat, proses pengintegrasian secara internal dalam kelompok peserta KKN pun harus dilakukan. Berikan kesempatan kepada setiap anggota kelompok KKN untuk berkontribusi sesuai dengan kemampuan dan kapasitasnya. Siapa pun dan latar belakang disiplin ilmu apa pun pada dasarnya memiliki kedudukan dan tanggung jawab yang sama dalam kelompok. Jalankan komunikasi dan koordinasi internal serta kelola (manage) kelompok sedemikian rupa hingga benar-benar dapat menjadi satu tim KKN yang kompak dan cerdas,

D. Kesimpulan

  1. Dengan memperhatikan hal-hal tersebut diharapkan dapat tercapai pendekatan sosial yang memungkinkan masyarakat untuk memberikan dukungan serta bersedia berpartisipasi dalam setiap kegiatan yang telah direncanakan, sehingga pada gilirannya setiap tujuan dan sasaran dari adanya kegiatan KKN kiranya dapat terwujudkan dengan baik.
  2. Pendekatan sosial merupakan hal yang amat penting untuk dilakukan guna menunjang keberhasilan kegiatan KKN. Oleh karena itu, penyelenggaraan KKN perlu didasari oleh pendekatan sosial yang tepat dan memadai, baik pada saat perencanaan, pelaksanaan maupun evaluasi.
  3. Pendekatan sosial dilakukan melalui tahapan-tahapan yang sistematis, meliputi tahapan : (1) pembukaan hubungan; (2) pemeliharaan hubungan; (3) pembinaan hubungan; dan (4) mengakhiri hubungan. Dalam kegiatan KKN terdapat beberapa pola atau bentuk interaksi sosial yaitu : (1) interaksi individu dengan individu; (2) interaksi individu dengan kelompok; dan (3) interaksi kelompok dengan kelompok.
  4. Interaksi sosial antara peserta KKN dengan masyarakat ditandai oleh adanya beberapa peran dari peserta KKN yang harus diwujudkan secara baik. Dalam interaksi sosial, akan ditemukan sikap masyarakat yang beragam terhadap kegiatan KKN, ada yang cenderung positif, acuh tak acuh atau bahkan negatif yang perlu didekati secara tepat dan dipahami oleh para peserta KKN.
  5. Hal-hal yang layak diperhatikan oleh para peserta KKN dalam mengintegrasikan diri dengan masyarakat, meliputi : (a) keinginan untuk menjadi bagian integral dari masyarakat setempat; (b) pendekatan sosial bukan untuk kepentingan sesaat; (c) menghargai dan menghormarti sistem nilai yang berlaku di masyarakat setempat; (d) berusaha mendekati semua tokoh masyarakat setempat yang memiliki pengaruh kuat; (e) menjaga netralitas dalam konflik yang berkembang di masyarakat; (f) menjaga penampilan diri, sikap dan perilaku di masyarakat dan (g) menjadi tim KKN yang kompak dan cerdas.

Sumber Bacaan :

Adi R. Thahir. 2006. Pola Pelatihan Kader Bagi Masyarakat (makalah). Jakarta: LPM Universitas Trisakti.

Agraha Suhandi. 1993. Pola Hidup Masyarakat Indonesia. Bandung : Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran.

Anas Rasyid. 2006. Metode Pemecahan Masyarakat (makalah). Jakarta: LPM Universitas Trisakti.

B. Ter Haar. 1948. Adat Law in Indonesia. New York : Institute of Pacific Relations

C.A. Van Peursen.1984. Strategi Kebudayaan. Jakarta : Kanisius.

Gerungan, WA. 1977. Psychologi Sosial. Bandung : Eresco.

Jalaluddin Rakhmat. 1985. Psikologi Komunikasi. Bandung : C.V. Remaja Karya.

Kartika Wangsarahardja. 2006. Penyuluhan Kepada Masyarakat (makalah). Jakarta: LPM Universitas Trisakti.

——–. 2006. Pendekatan Sosial (makalah). Jakarta: LPM Universitas Trisakti.

Krech. et. al. 1962. Individu in Society. Tokyo : McGraw-Hill Kogakusha.

Medrilzam, M. 2000. Program Pendukung Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintah Daerah (Modul Pelatihan Perencanaan, Monitoring, dan Evaluasi Partisipatif; Buku Pegangan untuk Pelatihan Fasilitator). Jakarta : BAPPENAS.

Yuni Retna Dewi. Teknik Komunikasi Pada Proses Pendekatan Masyarakat (makalah). Jakarta: LPM Universitas Trisakti.



INI ADALAH KAMPUS KU TERCINTA YANG BERALAMATKAN DIPANAM,.DISINI OTAK DAN KETERAMPILANKU DIOLAH AGAR MENJADI GURU YANG PROFESIONAL